Jumat, 05 Desember 2014

My Husband Is The Best! CJR

Gambar aku dapatkan dari google :)



Cast:
-(Nama Panjang Kamu)
-Iqbaal D.R (CJR)

-Alvaro M.S (CJR)
-Salsha (Winxs)

Author: Dilla Rizqi A
Genre: Tentukan Sendiri :)

°
°
°

"Semua nya akan baik baik saja. Percayalah" Selalu, hampir setiap hari aku menyemangati diriku sendiri. Aku yakin, setelah semua kesedihan ini berakhir, kebahagiaan dan ke ajaiban tengah menungguku. Aku harus sabar. Hidup ini tidak semudah yang aku kira. Banyak rintangan yang harus ku lalui. Aku telah melewati rintangan setengah hidupku, jadi aku tidak boleh menyerah begitu saja dengan mengakhiri penderitaan yang sedang ku perjuangankan saat ini.

(Nama Panjang Kamu), itulah nama ku. Umurku sudah 18 tahun. Aku tidak melanjutkan study ku. Dengan kata lain, aku tidak kuliah. Semua impianku hilang, hidupku hancur. Semua berawal ketika kecelakaan itu terjadi, kecelakaan dimana aku harus kehilangan ibu dan ayah. Aku menyesal telah menolak untuk pergi bersama mereka saat itu. Seandainya aku tidak menolaknya, penderitaan ku sudah berakhir satu tahun yang lalu. Ayah dan ibuku meninggal saat mereka akan berkunjung untuk menandatangani kontrak saham yang mau terikat dengan perusahaan ayah. Penderitaan ku belum berakhir. Sebulan usai ayah dan ibu dimakamkan. Aku mendengar kabar bahwa perusahaan sudah gulung tikar karna tidak ada penerus. Ayah tidak pernah menyuruh bahkan mengajariku untuk mengelola bisnis nya. Rumah kami disita. Aku yang saat itu kebingungan akan tinggal dimana didatangi seseorang yang menyuruhku tinggal dirumahnya.

Aku pikir, aku akan di adopsi. Ternyata aku salah. Aku tidak di adopsi, melainkan dinikahkan. Disinilah aku tinggal, dirumah mewah suamiku yang umurnya jauh dari umurku. Dia berusia 25 tahun. Dia dingin, kami menikah empat bulan setelah seseorang membawaku kesini. Jadi, aku menikah dengan nya lima bulan setelah ayah dan ibu meninggalkan ku. Siapa yang mewakili ku dalam pernikahan itu? Tentu saja seseorang yang membawaku kesini, seseorang itu mengaku bahwa dia adalah adik ayahku, berarti ia pamanku. Aku tidak pernah diajak ayah atau ibu untuk bertemu dengan saudara saudara kami. Itu sebabnya aku tidak mengenal paman.

Hingga saat ini, aku tidak mengerti maksud dari pernikahan ku dengan suamiku. Paman tak pernah menceritakan apa pun kepadaku. Dan aku bodoh telah menandatangani surat itu. Surat dimana aku bersedia menikah dengan suamiku.

Cleck…

Aku mendengar pintu dibuka. Aku yang saat ini sedang duduk melamun tanpa menonton Tv segera bangkit untuk menyambutnya. Dia sudah terlihat, wajahnya begitu lesu, aku khawatir padanya, bagaimana pun juga aku ini istri nya. "Wajahmu terlihat lesu, apa kamu lelah?" Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia berjalan pergi menuju kamar kami. Aku tau dia bersikap seperti itu, mungkin dia juga dipaksa menikah dengan gadis yang tidak mengetahui apa pun yaitu diriku. Walau sikapnya seperti itu, dia tidak pernah menyuruhku untuk berpisah kamar. Bahkan kami satu ranjang. Ku ikuti langkahnya. Aku segera masuk karna dia tidak menutup pintu. Ku lihat dia terduduk diujung ranjang kami. Wajahnya tertunduk. Aku ingin menenangkan nya. Kemungkinan ada sesuatu yang dia sembunyikan dan itu menjadi beban yang harus dipikul nya seorang diri. Aku tidak tega membiarkan nya seperti ini. Aku menghampiri nya dan duduk disampingnya. Aku tidak berani menyentuhnya, aku takut ia akan marah, jadi aku hanya bertanya pada nya, "Ada apa?"

Ku lihat dia mengangkat wajahnya dan memandangku, "Kapan kau pergi?" Aku tersentak mendengar jawaban nya, aku bertanya kembali, "Pergi? maksudmu?" Ia menghela nafasnya. "Dia… sudah kembali. Aku harap kau pergi secepat nya, sebelum dia mengetahui hal ini" Pria jangkung yang umurnya lebih tua dari ku itu beranjak meninggalkan ku. Aku tidak mengerti maksudnya, jadi sebelum ia menghilang dari pintu, aku menghentikan nya dengan pertanyaan yang ku lontarkan, "Dia? dia siapa?" Suami ku menjawab, "Kekasihku" Aku benar benar terkejut mendengarnya, ia telah berlalu, apakah aku tidak salah dengar? Kekasih? Kekasih yang mana? Dada ku sesak, aku kira hanya aku kekasihnya. Maksudku, hanya aku yang ada disisinya setelah ibu nya. Tapi dugaanku salah, dan dia tidak mungkin berbohong. 


°°°


Dia sudah tertidur usai makan malam kami yang dipenuhi keheningan. Dia tertidur begitu pulas dan aku mendengar dengkuran halus miliknya. Mengingat perbincangan kami tadi, aku jadi khawatir dia akan pergi meninggalkanku dengan wanita lain. Aku takut. Aku takut kehilangan seseorang yang telah aku sayangi. Bahkan aku mencintainya walau dia mungkin, belum mengenalku. Akan sangat sakit jika ia yang pergi. Apakah harus aku yang pergi lebih dulu agar aku tidak terlalu sedih? sepertinya aku harus melakukan itu.


***


"Kamu mau kemana?" Tanyaku saat melihatnya berpakaian rapi. Dia tidak menjawab pertanyaanku seolah tak mendengarnya. Jadi ku ulangi pertanyaanku, "Kamu mau kemana?" Dia menjawab sekenan nya, "Menemui seseorang!" Aku merasa ada yang janggal atas ucapan nya. Aku akan mengikutinya. Tapi bagaimana aku mengikuti nya? Ku lihat dia telah berlalu keluar dari rumah kami. Aku juga melihat nya yang sedang memanaskan mesin mobil. Tak lama kemudian, dia berlalu. Aku bingung harus mengikuti nya dengan apa. Ketika hendak menutup pintu, aku mendengar, suara deru mobil yang baru saja sampai. Apa dia kembali lagi? Awalnya ku pikir begitu, tapi ketika melihat warna mobil yang berbeda, aku mengiranya bukan. Ku tunggu seseorang didalam nya keluar, saat yang ku harapkan terjadi, aku terkejut melihatnya. Dia, seseorang dimasa lalu ku kembali datang, menunjukkan batang hidungnya tepat di depan mata ku.


°°°


"Untuk apa kamu mengikuti suamimu? Apa kamu curiga dia akan selingkuh?" Tanya nya padaku. Aku menghela nafas dan menjawabnya, "Tidak. Aku hanya penasaran dengan 'Seseorang' yang dimaksudnya" Pria disampingku yang tengah membantuku membuntuti mobil hitam didepan hanya mengangguk. Aku yang penasaran tujuan dia mendatangi rumahku dan suamiku akhirnya bertanya padanya, "Oh iya. Ada apa kamu berkunjung kerumahku?" Dia terdiam beberapa saat kemudian menjawabnya dengan lirih, "Aku merindukanmu" Kini aku yang terdiam. Jika boleh jujur, aku juga ingin berkata aku merindukan nya. Namun, mengingat statusku yang telah bersuami, aku tidak mengatakan nya. Bukankah itu tidak pantas jika aku mengatakan nya? Aku tau dia kecewa karna aku tidak membalas bahwa aku merindukan nya juga. Dia, sosok disampingku adalah seseorang yang telah membuatku nyaman. Dulu kami melalui hari bersama sama, merajut kasih sayang dengan kenangan masa lalu yang cukup sulit ku lupakan. 

"Aldi, berhenti" Dia segera menyingkirkan mobilnya dari tengah jalan. Kami saling melihat ke arah dimana suamiku memakirkan mobilnya, tepat diarah berlawanan dari mobil yang aku dan Aldi tumpangi. Kami melihatnya memasuki sebuah cafetaria. Ku alihkan pandanganku pada Aldi. Dia mengerti maksudku. Kami turun dari mobil untuk memasuki tempat yang sama. Ketika kami berdua masuk. Aku melihatnya yang tengah duduk membelakangi kami. Aku dan Aldi mencari tempat duduk yang agak berjauhan dan memiliki resiko kecil jika ketahuan oleh suamiku. Baru saja kami duduk, seorang wanita datang menghampiri meja dimana suamiku berada. Wanita itu cantik, dari wajahnya, ia sepertinya lebih tua dariku. Kira kira usianya sekitar 20-21 tahun. Mungkinkah dia… Kekasih suamiku? Aku tidak kuat melihatnya. Aldi terkejut saat aku beranjak dari duduk untuk meninggalkan cafetaria ini. Aku dapat merasakan bahwa ia mengikuti langkahku. Aku menyetop sebuah taksi yang lewat dan hendak masuk, Aldi menghentikanku dengan bertanya, "Kamu mau kemana?" Aku menatapnya sebentar, dan entah kenapa aku malah menjawab, "Hubungan kita sudah berakhir lima bulan yang lalu. Aku pikir, lebih baik kamu melupakan aku dan cari penganti aku secepat mungkin, Al. Aku merasa aku akan menjadi istri yang buruk jika masih berhubungan dengan pria lain selain suamiku"

Aku melihat nya yang kecewa, Aldi mengatakan sesuatu yang membuatku tersadar, "Lalu, apakah yang dilakukan suamimu didalam adalah hal yang benar?" Aku segera menepis pikiran burukku mengenai hal itu dengan berkata, "Mungkin aku salah paham. Bisa saja wanita tadi adalah klien nya. Atau mungkin sekedar teman kerja. Kalau begitu, aku pergi, makasih telah mengantarkan ku kesini, Al" Aku masuk kedalam taksi. Taksi yang ku tumpangi melaju, aku kecewa karna Aldi hanya diam dan tidak mencegahku lagi. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku. Entah karna aku kecewa pada Aldi yang tak mengejarku, atau karna suamiku sedang bersama wanita lain. Aku tidak tau.


°°°


Pukul sudah menunjukkan jam 22.45 Pm. Suamiku belum pulang. Aku sudah bosan melihat Tv. Aku mematikan nya dan saat itulah aku mendengar deruan mobil yang baru saja datang. Seperti biasa, aku akan menyambutnya. Namun yang ku dapati setelah menunggu suami ku hingga larut adalah kekecewaan yang sulit ku telan. Ia membawa seorang wanita memasuki rumah kami. Aku menyapa mereka, "Selamat malam. Apa kalian lelah? Aku bisa membuatkan air hangat untuk kalian?" Kedua nya tidak menjawab. Tapi aku mendengar suamiku berkata pada wanita itu, "Tunggulah disini dulu" Wanita itu mengangguk, aku melihat suamiku memberikan kode agar aku mengikutinya. Sekarang kami berada dikamar. Dia mengunci pintu. Aku memanfaatkan hal itu untuk bertanya padanya, "Wanita itu, dia siapa?" Suamiku malah bertanya padaku, "Masih ingat dengan 'Dia' yang ku maksud kemarin?" Aku mengangguk, tapi raut wajahku berubah seperti terkejut, "Ja-jadi dia kekasihmu?" Suamiku menanggangguk. Dadaku begitu sakit. Ku tahan agar air mata ini tidak terjatuh. Aku akan terlihat lemah didepan nya. Ku tahan tangisku dengan berkata, "Jadi kamu tidak berbohong. Apakah kamu serius menyuruhku pergi dari kehidupanmu?" Dia hanya terdiam. Aku menghela nafas. Dan kembali berkata, "Aku mengerti. Tapi sebelum pergi, aku ingin bertanya sesuatu, apa kamu tau maksud paman dan orang tuamu menikahkan kita?" Dia terdiam, aku tidak bisa memaksanya untuk berbicara lebih lanjut. Aku hanya berkata lirih padanya, "Tidak usah terlalu dipikirkan. Jangan dijawab jika itu tidak perlu kamu jawab. Aku hanya ingin bilang, mungkin, besok pagi aku sudah tidak ada. Jangan cari aku karna aku baik baik saja. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun, jangan mengkhawatirkan gosip mengenai dirimu, pewaris perusahaan Fakhri Group. Cepatlah temui wanita itu,jangan biarkan dia terlalu lama menunggu" Ia mengangguk, siap membuka pintu. Sebelum berlalu dia memberitauku satu hal, "Namanya Salsha" Aku menahan tangisku agar tidak pecah. Ku tutup pintu kamar usai kepergiannya. Aku menangis, aku menangisi hidupku yang begitu pedih ini. Bahkan suamiku tidak peduli perasaanku dengan memberi tau nama kekasihnya.


***


Hari sudah sangat malam. Aku tidak tau apa yang tengah dilakukan suamiku dengan wanita itu diruang utama. Yang jelas, aku berharap suamiku segera tidur agar aku bisa pergi saat dirinya terlelap. Apa yang ku harapkan terjadi tiga menit kemudian, aku mendengar pintu kamar dibuka. Disusul langkah seseorang yang ku yakini adalah suamiku. Dalam ke adaan gelap, aku bisa merasakan kehadiran nya. Suamiku naik ke ranjang. Awalnya aku pikir dia akan menghabiskan semalaman untuk berbincang atau melakukan hal lebih pada kekasihnya. Ternyata aku salah. Aku mencoba untuk berpura pura tidur. Dan saat itulah, aku merasakan sesuatu yang hangat, besar dan kuat tengah melingkar dipingangku. Mungkinkah itu tangan suamiku? Beberapa detik Kemudian aku mendengar suaranya yang bertanya, "Apa kamu sudah tidur?" Aku jelas tak menjawab karna aku tidak ingin dia mengetahui bahwa aku masih terbangun. Ku dengar suaranya lagi yang mengatakan, "Salsha sudah pergi, jangan khawatirkan apa pun" 

Cup…

Aku merasakan kecupan bibirnya pada keningku. Aku heran dan dibuat bingung maksud dia melakukan hal ini padaku. Aku deg deg an menunggu kejutan apalagi yang ia berikan padaku. Aku mendengarnya berbicara kembali,

"Aku tidak pernah berani menyentuhmu saat kau terbangun. Aku pikir kamu membenciku karna kamu tidak pernah menyentuhku. Mungkin pernikahan ini terbilang aneh ditelingamu, tapi tidak dengan telingaku. Seandainya kita pernah bertemu sebelumnya, mungkin kamu tidak dibuat bingung akan pernikahan ini. Pernikahan ini adalah dasar kemauanku. Aku berhutang pada orang tuamu yang telah menyelamatkanku saat aku tersesat disebuah kota. Mereka merawatku, dan saat itu kamu masih berumur satu bulan dikandungan ibumu, ayahmulah yang mengatakan nya padaku. Aku saat itu berusia enam tahun dan orang tuamu merawatku hingga akhirnya aku ditemukan kembali dan dibawa pulang oleh orang suruhan orang tuaku. Aku berharap akan ditemukan lebih lama agar aku bisa melihat kelahiranmu. Tapi nyatanya aku ditemukan lebih cepat dari perkiraanku. Sejak saat itulah aku meminta ayah mencari tau tentang keluargamu, ayah sangat senang aku baik baik saja dan ia juga berhutang pada orang tuamu. Aku mengikuti perkembangan usaha ayahmu, dan aku shock ketika mendapat kabar dari mata mataku yang mengatakan bahwa kedua orang tuamu mengalami kecelakaan, dan perusahaan gulung tikar. Sejak saat itu aku memutuskan untuk mendatangi kediaman pamanmu dan memintanya agar ia menikahkan ku dengan keponakan nya. Untuk mendapatkanmu, aku harus mengeluarkan uang yang banyak. Tapi itu tidak sebanding dengan kasih sayang yang pernah diberikan orang tuamu padaku saat aku dirawat mereka. Aku begitu bahagia telah mendapatkanmu. Tapi, aku melihat kamu tidak bahagia hidup bersamaku. Aku pikir kamu memaksakan diri untuk bersikap baik padaku"

Aku mendengarnya menarik nafas,

"Dan, aku awalnya berpikir kamu tidak akan pernah pergi hanya karna aku memintanya. Aku berharap kamu akan bertahan atas apa yang aku ujikan padamu. Wanita itu, wanita bernama Salsha hanyalah wanita yang aku bayar untuk membuatmu cemburu. Tapi nyatanya kamu tidak cemburu dan malah bilang akan segera pergi. Aku menyesal telah menyuruhmu segera pergi dari kehidupanku. Maaf jika selama ini aku selalu bersikap dingin padamu, aku bersikap seperti itu karna aku ingin kamu memarahiku dan meminta penjelasan kenapa aku bersikap seperti itu padamu. Aku kecewa karna kamu hanya diam dan bersabar. Aku mencintaimu, aku sudah terbiasa untuk tidak tertarik pada wanita manapun karna hanya kamu satu satunya wanita yang aku incar sejak aku masih kecil. Aku tidak peduli akan perbedaan usia kita yang begitu jauh. Karna aku… mencintaimu, mencintai gadis yang sekarang berusia 18 tahun" 

Aku tidak bisa menahan nya. Aku telah mendengar pengakuan nya. Kini aku mengerti. Kini aku paham siapa dia dan mengapa pernikahan ini terjadi. Aku akan jujur bahwa sebenarnya aku mendengar pengakuan nya itu sejak tadi. Ku balikkan tubuhku menghadapnya secara tiba tiba. Aku merasakan tangan nya yang terlepas dari pinggangku dan mungkin, kini ia tengah terkejut. Aku segera berkata padanya, "Aku malah berpikir kamu yang membenciku karna tidak pernah menyentuhku. Kenapa kamu baru mengatakan nya sekarang? Kenapa kamu membuatku bingung akan sikapmu, juga pernikahan aneh ini? Dan mengenai paman, paman sama saja telah menjualku pada pria pengecut seperti mu yang bahkan tidak berani menceritakan ini sejak awal pernikahan!"

Dia terdiam, aku membentaknya, "Bahkan kamu tidak memelukku lagi hanya karna aku berbalik secara tiba tiba!" Aku merasakan nya lagi. Aku merasakan dia memelukku dengan tangan nya yang kekar nan besar. Hangat kini menjalar diseluruh tubuhku. Dia menarik ku untuk mendekat. "Aku hanya terkejut karna ternyata kamu mendengar semuanya. Bukankah aku sudah bertanya apa kamu telah tertidur?" Aku tersenyum dan menjawab, "Jika aku mengatakan belum, maka aku tidak akan punya kesempatan untuk mendengar pengakuanmu. Dan mungkin, jika kamu tidak segera menjelaskan nya, besok kamu akan menyesal karna aku telah tiada. Aku berniat pergi saat kamu tertidur malam ini"

"Terimakasih karna kamu belum terlelap" ujarnya padaku. Aku memeluknya juga, "Terimakasih telah menceritakan nya padaku sehingga aku tidak akan pernah pergi dari kehidupanmu" Dia mengecup keningku untuk yang kedua kali nya. Aku tersenyum bahagia dan mengeratkan pelukanku, "Aku tidak pernah menyesal menikah dengan pria yang bahkan umurnya berbeda jauh denganku hanya saja aku tidak pernah menyangka akan menikah dengan pria berusia 25 tahun" 
Suamiku berkata, "Dan kamu tidak menyangka akan menikah setelah lulus dari SMA. Mungkin ini takdirmu untuk segera menjadi seorang istri atau bahkan… ibu"
Aku melepaskan pelukanku dan mendorongnya menjauh, dia hanya tertawa dan kembali memaksaku mendekat padanya dengan tangannya yang masih memeluk pinggangku, "Aku menikah karna kemauanmu tau! Padahal awalnya aku berniat untuk kuliah, seandainya kamu membiayai kuliahku, aku akan tambah jatuh cinta padamu. Ini menyebalkan"

Dia masih tetap tertawa, aku cemberut dan tiba tiba saja nafasnya menerpa wajahku, dalam hitungan detik, dia mencium bibirku lembut dan melumatnya kasar. Bahkan ia sangat kasar sehingga aku berteriak, "Hentikan! kau mengingit bibirku" Perih, hanya itu yang ku rasakan. Awalnya ku pikir dia akan berhenti disini, tapi dugaanku salah, dia kembali menciumku hingga aku terpaksa mendorongnya untuk berbicara, "Apa yang kau lakukan? aku ini sedang menderita karna ulahmu. Tapi kau tidak peduli" Dia menjawab dengan sopan nya, "Aku berniat membersihkan darah dari bibirmu" Dia kembali menciumku dan aku hanya sabar akan tingkahnya yang seperti anak ayam yang tidak makan selama lima bulan!


°°°


Pagi ini, aku dan suamiku mendatangi makam kedua orang tuaku. Dia bersimpuh disampingku, memegangi batu nisan ayah. "Om, Iqbaal sudah menjadi menantumu. Iqbaal janji akan selalu menjaga putri om dengan baik. Jangan khawatir akan janji Iqbaal" Suamiku berbalik, menghadap makam ibu yang berada disamping ayah. Dia melakukan hal yang sama, menyentuh batu nisan ibuku, "Tante, apa tante masih kenal saya? tante, terimakasih telah melahirkan seorang anak perempuan. Dan dia telah resmi menjadi istriku. Dan saya sangat berterimakasih karna tante tidak melahirkan seorang anak laki laki, jika itu terjadi, setidaknya saya akan dijuliki seorang gay oleh semua orang karna menikahinya. Saya janji tidak akan membuatnya mengandung benih saya diusianya sekarang, dan saya janji akan melanjutkan studynya agar tidak terlantar dan bisa mewujudkan impian nya"

Ku tatap ketulusan nya yang berbicara pada alm ayah dan ibuku. Dia tampak belum selesai berbicara, "Saya merasa lega telah memilikinya. Saya bersumpah tidak akan pernah membiarkan nya jatuh ke tangan laki laki lain. Sekali lagi, terimakasih atas semuanya. Terutama jasa tante dan om yang telah menyelamatkan saya saat tersesat ketika saya liburan ke sebuah kota. Saya harus pergi, terimasih atas semuanya" Aku melihat suamiku bangkit. Ia menghadapku. Aku tersenyum padanya. Ia bertanya padaku, "Apakah bibirmu sudah membaik?" Aku sungguh malu atas pertanyaan nya itu. Aku mengangguk dan dia tersenyum. Tangan kanan nya melingkar dipinggang ku. Kami menjauh dari makam menuju mobil kami yang terpakir. Ditengah perjalanan menuju mobil kami, ia menghentikan langkahnya secara tiba tiba. Mau tidak mau aku harus melakukan hal yang sama.

Ia menatapku sejenak, dam bertanya untuk hal yang sama kedua kalinya, "Apa bibirnya sudah benar benar membaik?" Aku mengangguk sambil mengernyit. Dia tersenyum menarik ku lebih mendekat ke arahnya dan

Cup… ia mengecup bibirku lalu berlari pergi menuju mobil meninggalkan aku yang terpaku tidak sadar. Saat aku sadar akan apa yang dilakukan nya tadi, aku berteriak, "Yakk! Apa yang kamu lakukan kepadaku?"

TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar